Tampilkan postingan dengan label Mengenal Indikator Metatrader. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Indikator Metatrader. Tampilkan semua postingan

Indikator Dasar untuk Short-Term Trading

Sekian banyak indikator teknikal yang beredar secara umum seringkali memberikan indikasi berlainan. Hal ini menyebabkan banyak penggunanya menjadi salah kaprah dalam membaca indikator-indikator tersebut. Penggunaan indikator secara berlebihan bahkan dapat menyebabkan si pengguna gagal melihat indikasi-indikasi yang seharusnya bisa dilihat dengan mudah.
Dalam rubrik trading strategy bulan ini, kami mengangkat penggunaan 2 buah indikator yang dianggap sebagai ‘indikator dasar’. Penggunaannya secara bersamaan mungkin bisa menghasilkan return optimal dan mempersingkat periode transaksi. Indikator-indikator yang akan kami gunakan pada kesempatan kali ini adalah Bollinger Band danMoving Average (pada grafik 15 menit). Adapun produk-produk yang efektif digunakan dengan memakai indikator ini adalah pasangan mata uang utama seperti EUR/USD, GBP/USD, USD/JPY dan AUD/USD.
Bollinger Band adalah indikator teknikal yang diciptakan oleh John Bollinger pada 1980-an, dan baru dipatenkan tahun 2011 lalu. Ada banyak cara bagi pelaku pasar dalam mengimplementasikan Bollinger Band, yakni melakukanbuy ketika harga menyentuh lower Bollinger Band (batas bawah), dan menutup posisinya pada saat harga mencapai nilai tengah (Moving Average) dari Bollinger Band. Demikian pula sebaliknya, melakukan sell pada saat harga mencapai upper Bollinger Band, dan menutup posisi di garis Moving Average-nya. Namun tidak sampai di situ, ada juga yang menggunakannya dengan cara lain yaitu melakukan buy bila harga menembus ke atas upper Bollinger Band, dan sell bila harga menembus ke bawah lower Bollinger Band.
Implementasi
Tetapi dalam metode yang dikembangkan oleh Mark Larsen, seorang trader dan peneliti indikator pasar derivatif yang lama berkutat dengan berbagai indikator, penggunaan Bollinger Band adalah dengan memakai periode 10 dan digunakan sebagai acuan untuk masuk pasar.
Perhatikan gambar grafik 15 menit di bawah ini. Apabila harga mencapai lower bollinger tetapi ditutup di atas garis tersebut, lalu pada pergerakan harga selanjutnya mencatat penguatan, maka nilai lower bollinger tersebut menjadiindikasi. Biarkan harga terbentuk kembali, dan saat harga ditutup di bawah nilai indikasi, maka menjadi sinyal konfirmasi untuk mengambil posisi Buy/Long (lihat tabel 1 pada gambar).
Sebaliknya bila harga mencapai upper bollinger dan ditutup di bawah garis tersebut lalu pada pergerakan harga selanjutnya mencatat pelemahan, maka nilai upper bollinger tersebut menjadi indikasi. Setelah harga kembali terbentuk dan naik, ditutup di atas nilai indikasi maka menjadi sinyal konfirmasi untuk mengambil posisi Sell/Short(lihat tabel 2 pada gambar).
 
Level Target Profit
Untuk menutup posisi, kita gunakan indikator Moving Average, yakni garis yang terbentuk dari rata-rata nilai beberapa periode. Pada metode ini kita menggunakan Simple Moving Average periode 14, yang dipakai sebagai level untuk keluar (Target Profit) dari posisi kita. Penggunaan MA 14 (garis merah pada gambar) ini adalah untuk menghindari terjadinya kerugian transaksi karena kita menanti pencapaian mid bollinger sebagai exit level. Sangat disarankan untuk menghindari melakukan transaksi dengan menggunakan strategi ini pada saat/mendekati event/berita penting. Mengingat pergerakan harga yang terlalu volatile sehingga mempengaruhi indikator teknikal yang digunakan.
Level Stop Loss
Alangkah baiknya jika setiap transaksi disertai batasan risiko yang sewajarnya. Pada studi teknikal ini, kami sarankan untuk menyertai batasan risiko apabila harga turun ke bawah level rendah/low dari batang harga indikasi atau low dari batang harga saat kita masuk buy. Tabel 1 mengambarkan level cut loss pada low batang harga indikasi, di mana level low ini lebih rendah dibanding low pada batang harga sinyal entry level buy. Sebaliknya bila harga naik ke atas level tinggi/high dari batang harga indikasi atau high batang harga saat kita masuk sell. Seperti yang terlihat pada tabel 2 dimana menggambarkan level cut loss berada pada high batang harga entry level sell, karena lebih tinggi dibanding high pada batang harga indikasi.
Hal yang paling sulit dilakukan adalah mencari level indikasi, sehingga diharapkan kecermatan dan kehati-hatian dalam menentukannya. Kesabaran dalam menanti entry level sangat dibutuhkan karena terkadang kita fokus pada 1 level indikasi sehingga melewatkan harga yang membentuk sinyal indikasi yang berlawanan. Hal itu membuat kita gagal memanfaatkan peluang pasar yang telah terbentuk.
Continue Reading | komentar

Strategi Indikator Parabolic SAR untuk Exit level Secara Efektif

Parabolic SAR (Parabolic Stop and Reverse) adalah suatu metode analisa teknikal yang disusun oleh J. Welles Wilder Jr. dan mulai diperkenalkan pada tahun 1978 dalam buku New Concepts in Technical Trading Systems. Metode ini sangat berguna untuk menemukan potensi reversal pada pergerakan harga produk di pasar keuangan, seperti saham dan mata uang. Parabolic SAR  pada dasarnya adalah lagging indicator yang dapat digunakan untuk menentukan trailing stop loss serta titik masuk/keluar posisi, dengan mengacu pada tren harga dalam kurva parabolik yang mencerminkan tren kuat di pasar. Jika posisi Parabolic SAR berada di bawah hargarunning maka mengindikasikan tren bullish. Sementara bila posisinya berada di atas harga running maka mengindikasikan tren bearish.
Penggunaan umum Parabolic SAR sebagai indikator pencari poin masuk dan keluar sebenarnya mudah dimengerti dan diaplikasikan. Prinsipnya apabila titik Parabolic berpindah dari atas ke bawah harga running, maka menjadi sinyal untuk beli (buy). Sebaliknya jika titik tersebut berpindah dari bawah ke atas harga running, maka menjadi sinyal untuk jual (sell). Kendala paling pelik dari penggunaan Parabolic SAR muncul dalam kondisi pasar yang stabil atau terlalu sempit, yang membuat level masuk dan keluar posisi menjadi sempit pula. Sehingga nilai transaksi yang ditempatkan terkadang tidak mampu menutup jumlah spread dari suatu produk. Efektivitas Parabolic SAR paling terbukti ketika digunakan sebagai exit level, baik untuk menentukan stop loss maupun take profit, disertai pemakaian indikator teknikal lainnya sebagai entry level.
Rubrik Trading Strategy kali ini akan menjabarkan penggunaan suatu persilangan dari 2 Weighted Moving Average (WMA) dan Parabolic SAR untuk bertransaksi di pasar. Periode yang digunakan pada WMA adalah 5 dan 14. Sementara setelan Parabolic SAR yang diterapkan adalah standard step 0.02 dan maximum 0.2.
Implementasi
Berikut ini adalah ulasan tentang penerapan strategi yang simpel dengan cara menempatkan entry levelberdasarkan persilangan (cross) WMA 5 dan 14. Apabila WMA 5 telah terkonfirmasi memotong WMA 14 ke atas, maka ambil posisi buy. Sebaliknya jika WMA 5 terkonfirmasi memotong WMA 14 ke bawah, maka ambil posisi sell. Syarat konfirmasi adalah setelah harga penutupan terbentuk. Sebelum mengambil posisi, perhatikan posisi Parabolic SAR. Pada umumnya arah perpotongan WMA mengarah ke level Parabolic SAR, yang berarti pergerakannya akan melawan tren Parabolic SAR. Dalam kondisi seperti ini, Parabolic SAR menjadi target levelatau exit level pasar. Apabila terjadi sebaliknya, yakni arah perpotongan WMA menjauhi level Parabolic SA, berarti posisi kita searah dengan tren Parabolic SAR. Dalam kondisi seperti ini, peluang untuk profit menjadi lebih besar dan kita dapat keluar atau melikuidasi posisi saat harga yang naik, kembali turun menyentuh WMA 5. Atau kita dapat kembali menggunakan metode Parabolic SAR, yang memang biasanya mampu memberikan profit lebih besar.
Sebelum pengambilan posisi harus diperhatikan adalah spread produk transaksi, volatilitas pasar dan jarak harga penutupan dengan titik Parabolic SAR, yang pengaruhnya sangat besar terhadap hasil trading. Kondisi terbaik adalah ketika pasar bergerak fluktuatif dengan kisaran besar. Penerapannya sangat mudah yakni hanya dengan menghitung besarnya jarak antara titik Parabolic SAR ketika cross WMA terbentuk dan harga penutupan saat crossWMA terbentuk. Untuk produk dengan spread kecil seperti forex, perbedaan sebesar 20-30 poin cukup untuk dijadikan syarat masuk posisi. Sedangkan untuk produk dengan spread lebih besar, misalnya emas, sangat disarankan perbedaan 100 poin sebagai syarat untuk masuk posisi. Rekomendasi ini ditujukan supaya kita bisa menghindari exit level yang terlalu sempit dari posisi masuk.
Sama seperti penggunaan indikator teknikal lainnya, kita sangat disarankan untuk mempersiapkan level risiko atau tingkat kerugian yang wajar. Dalam penerapan indikator kali ini terdapat 3 level yang dapat digunakan sebagai alternatif stop loss yaitu:
  1. Titik Parabolic SAR sebagai level stop loss.
  2. Running price (harga berjalan) kembali menyentuh WMA 14 pada posisi loss.
  3. Level high/low dari candlestick pada saat cross WMA terbentuk.
Poin 1 dan 2 bisa saja menjadi exit level profit pada sebuah tren yang kuat, sedangkan poin 3 menjadi exit levelyang fixed dari posisi buy/sell.
Berikut ini adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam transaksi:
  1. Selalu perhatikan jarak antara nilai Parabolic SAR dan harga penutupan di chart saat cross WMA terbentuk atau terkonfirmasi. Jangan lupa untuk memperhitungkan spread dan volatilitas harga saat pengambilan posisi.
  2. Posisi buy/sell yang menuju titik Parabolic SAR biasanya memberikan peluang untuk profit lebih cepat meskipun nilainya lebih kecil. Sedangkan posisi yang menjauhi titik Parabolic SAR pada umumnya memberikan peluang profit lebih besar tetapi untuk jangka waktu yang lebih lama.
  3. Ambil posisi hanya bila cross WMA telah terbentuk atau terkonfirmasi, jangan pada saat cross baru terbentuk, karena perubahan mungkin terjadi seiring pergerakan harga.
  4. Sedapat mungkin hindari transaksi menjelang dan setelah rilis data fundamental dengan impact tinggi karena akan mempengaruhi pergerakan pasar.
Indikator teknikal ini dapat digunakan pada hampir semua periode, meskipun lebih efektif diterapkan pada periode menengah di chart antara 15 menit dan 1 jam. Selalu ingat untuk membatasi kerugian dengan mematok level risiko yang dapat anda terima.
Silahkan melatih strategi trading anda pada platform online trading dengan mendaftar demo account di sini.
Gambar 1. Grafik 15 Menit XAUUSD
Keterangan gambar:
-          Garis hijau: WMA 5
-          Garis merah: WMA 14
-          Titik biru: Parabolic SAR 0.02, 0.2
Continue Reading | komentar

Analisis Signal Entry dan Exit Menggunakan CCI

Commodity Channel Index (CCI) adalah sebuah indikator teknikal yang dikembangkan oleh Donald Lambert dan mulai diperkenalkan pada tahun 1980. CCI merupakan salah satu indikator serba guna yang berfungsi untuk mengidentifikasi tren baru atau suatu kondisi yang ekstrim. Meskipun pada awalnya hanya digunakan untuk mengukur perputaran arah harga komoditi, CCI juga dapat diaplikasikan untuk produk indeks, Exchange Traded Funds(ETFs), saham, ekuitas, surat-surat berharga dan mata uang.
Donald Lambert pertama kali memperkenalkan indikator CCI dalam majalah Commodities pada tahun 1980 (sekarang dikenal dengan Futurez Magazine). Prinsip perhitungan CCI Lambert adalah perbedaan harga umum(pivot point) suatu produk terhadap nilai simple moving average pada periode tersebut, kemudian dibagi nilai deviasi absolut (dalam ulasan teknikal kali ini digunakan 0.015 untuk memberikan angka yang lebih dapat dipegang). Dalam pembacaan nilai CCI-nya, disertakan pula 2 buah garis yang dipakai untuk mengindikasikan level overbought(+100) dan oversold (-100).
Interpretasi CCI Lambert
Trader dan investor pada umumnya menggunakan CCI untuk membantu identifikasi arah balik harga, harga yang ekstrim dan kekuatan tren. Sama seperti hampir semua indikator teknikal, CCI paling baik diaplikasikan bersama dengan analisa indikator teknikal lainnya.
Umumnya CCI bergerak di atas dan di bawah level nol, dengan pergerakan normal pada kisaran +100 sampai dengan -100. Pergerakan di atas level +100 menjadi sinyal overbought sedangkan pergerakan di bawah level -100 menjadi sinyal oversold. Sama seperti indikator dengan kondisi overbought/oversold, harga berpeluang untuk kembali terkoreksi ke level yang lebih mewakili.
Fokus dari CCI lambert terletak pada pergerakan di atas +100 dan di bawah -100 untuk menjadi sinyal buy dan sell. Hal ini sesuai dengan perhitungan Lambert yaitu bahwa 70-80% pergerakan indikator CCI terjadi di dalam kisaran +100 sampai -100, sedangkan peluang indikator CCI keluar dari level tersebut (yang menjadi sinyal buy atau sell)  hanya berkisar 20-30%. Jika CCI bergerak naik di atas +100, suatu produk dianggap memiliki tren naik yang kuat dan mendapatkan sinyal buy. Posisi ini harus ditutup pada saat indikator CCI kembali ke bawah level +100. Jika CCI bergerak turun di bawah -100, suatu produk dianggap memiliki tren turun yang kuat dan mendapat sinyal sell. Posisi ini harus ditutup ketika indikator CCI kembali ke atas level -100.
Cara Aplikasi lainnya
Sejak penggunaan aslinya dikenal secara umum, banyak pelaku pasar kemudian juga menemukan fungsi CCI sebagai alat untuk mengidentifikasi pembalikan arah. CCI adalah indikator serba guna yang mampu menghasilkan sinyal buy dan sell yang luas, di antaranya:
  1. Sejalan dengan teori Lambert tetapi bertentangan dengan prinsip entry and exit, pergerakan CCI mencapai level overbought dan kembali ke bawah level +100, akan menjadi sinyal sell. Sedangkan jika CCI telah mencapai level oversold dan kembali ke atas level -100, maka menjadi sinyal buy. Untuk memudahkan, maka selanjutnya akan disebut CCI Anti Lambert.
  2. Sama seperti semua oscillator, divergence juga dapat diaplikasikan untuk menambah kekuatan sinyal.Divergence positif di bawah -100 dapat meningkatkan kekuatan sinyal pada saat kembali ke atas level -100.Divergence negatif di atas +100 akan meningkatkan kekuatan sinyal pada saat kembali ke bawah level +100.
  3. Trend line break juga dapat digunakan untuk menghasilkan sinyal. Trend line dapat digambar dengan menghubungkan peaks (puncak) dan Troughs (lembah). Dari level oversold, penguatan ke atas -100 dantrendline breakout dapat menjadi sinyal bullish. Dari level oversold, pelemahan ke bawah +100 dan penembusan trendline dapat menjadi sinyal bearish.
Pada CCI Lambert tampak jelas bahwa level target take profit dan cut loss adalah sama, dan pada umumnya berada dalam kisaran yang lebih kecil. Sedangkan CCI Anti Lambert tidak memiliki level cut loss yang jelas dan bergerak dalam kisaran yang lebih besar. Walaupun memiliki keunggulan dalam hasil profit yang lebih baik, periode yang dibutuhkan juga lebih lama.
Contoh lebih jelasnya bisa diwakilkan oleh gambar berikut ini. Grafik GBP/USD dipasang pada periode 1 jam. Periode ini dipilih karena miss yang terjadi pada teknikal CCI terbukti lebih jarang dan poin profit-nya dapat diterima.
Sekali lagi, kami ingatkan bahwa setiap transaksi pasti mengandung risiko. Akan sangat bijaksana apabila anda mempersiapkan level risiko yang bisa diterima oleh pribadi anda masing-masing.
Continue Reading | komentar

Strategi Teknikal dengan Indikator Fractal Dan Alligator

Secara ilmiah, kata fractal dapat diartikan sebagai sebuah fragmen berbentuk geometris yang dapat dipecah menjadi lebih kecil dengan bentuk yang relatif sama atau serupa. Definisi ini pertama kali dikemukakan oleh ilmuan Benoit Mandelbrot pada tahun 1975.
Percaya atau tidak, jauh sebelum konsep fractal di temukan oleh ilmuwan tersebut, analisa teknikal sudah menggunakan prinsip dasarnya. Terutama melalui teori Elliott Wave yang eksis pada tahun 1930-an.
 
Meskipun demikian, pembahasan kita kali ini bukan tertuju pada fractal yang dimaksud oleh Mandlebrot ataupun Elliott. Highlight diatas bertujuan untuk menilik landasan teori, khususnya yang disampaikan oleh Elliott tentang pergerakan harga. Gagasan ini banyak memberikan inspirasi dalam proses analisis, termasuk dalam kemunculan indikator yang menjadi pokok bahasan kali ini.
 
Fractal yang dimaksud di sini adalah satu dari lima indikator yang diperkenalkan oleh Bill Williams. Indikator ini berfungsi untuk memberikan gambaran alternatif tentang titik puncak (top) atau dasar (bottom) dari pergerakan harga suatu instrumen pada periode tertentu.
 
 
Pada pembahasan ini, definisi sederhana dari Fractal naik adalah bar yang memiliki high tertinggi, diapit oleh minimal dua bar ber-high lebih rendah. Demikian pula sebaliknya untuk fractal turun.
 
Fractal-fractal yang terbentuk pada titik tertinggi atau titik terendah akan diberikan tanda anak panah sesuai arah pergerakannya.
 
Penggunaan Fractal
 
Penggunaan Fractal dalam trading adalah dengan mengambil posisi sesuai arah breakout fractal. Jika harga bergerak melewati fractal naik, maka posisi yang diambil adalah beli. Sebaliknya jika harga bergerak melewati fractal turun, maka posisi yang diambil adalah jual. Akan tetapi, tidak seluruh fractal dapat dijadikan sinyal. Hanya fractal yang di dahului oleh fractal lain dengan arah yang berlawanan saja yang dapat dijadikan sinyal.
 
Fractal juga ada yang berjenis start, yakni fractal yang menjadi titik awal fractal sinyal. Atau dengan kata lain fractal yang selalu disusul dengan fractal lain yang berlawanan arah. Pada penggunaanya, Fractal start dapat di jadikan sebagai penempatan stoploss.
 
 
Memanggil Fractal ke dalam Grafik
 
Untuk mendapatkan fractal dalam Platform Monex Trader, klik ikon fungsi indikator. Pilih Bill Williams, lalu fractal. Atau klik pada insert menu dan pilih indikator, Bill Williams dan kemudian pilih fractal.
 
 
 
Gambar.3
 
Filter Alligator
 
Menurut Bill William, penggunaan Fractal sebagai sinyal harus di filter melalui Alligator. Jika fractal buy lebih tinggi dari Alligators teeth (berwarna merah pada gambar. 4), maka transaksi buy diambil beberapa tick diatas fractal buy. Dan apabila fractal lebih rendah dibanding Alligators teeth, maka transaksi sell sebaiknya diambil beberapa tick di bawah Fractal sell. Sebagai catatan, setelah sinyal fractal terbentuk, ia bertahan sebagai sinyal hingga terjadi failure atau fractal selanjutnya terbentuk.
 
Continue Reading | komentar

Cara Mudah Menerapkan Analisa Teknikal

Sebelum mengambil keputusan trading, analisa fundamental dan strategi penggunaan modal mutlak diperlukan. Akan tetapi, terdapat salah satu metode yang tidak kalah penting untuk meraih profit optimal, yakni analisa teknikal. Besarnya peranan analisa teknikal tercermin dari banyaknya buku panduan berisi puluhan bab dan ratusan halaman yang membahas seluk beluk metode tersebut. Tak bisa dipungkiri bahwa materi tentang aspek teknis memiliki ruang lingkup terluas dalam dunia trading.
Meskipun demikian, bukan berarti analisa teknikal dipenuhi kerumitan dalam penerapannya. Kali ini akan membahas 5 langkah praktis dalam penggunaan analisa teknikal. Demi mempermudah  pemahaman, maka ulasan ini akan dibagi dalam beberapa edisi, agar Anda bisa menguasai analisa teknikal dengan baik sesuai urutan langkah sederhana.
1. Petakan Trend dan Ikuti
Bagian pertama dan terpenting dalam analisa teknikal adalah pengenalan terhadap trend yang sedang terjadi saat ini.  Trend terbagi dalam beberapa rentang waktu, yakni panjang, menengah dan pendek. Mulailah menganalisa grafik dengan periode relatif panjang, misalnya memakai time frame bulanan (monthly) dan mingguan (weekly).Luasnya data yang terlibat di sini, memungkinkan Anda melihat arah pergerakan harga secara menyeluruh, dengan pandangan yang jauh lebih panjang pula. Sebagaimana yang terlihat pada gambar 1.
 
Gambar 1. Grafik Euro Weekly
Satu grafik periode weekly dapat menampilkan pergerakan harga selama lebih dari 10 tahun. Gambar 1 menunjukkan pergerakan Euro sejak awal tahun 1992
Kemudian Anda dapat melanjutkan pengenalan trend pada grafik dengan periode lebih pendek, misalnya daily danintraday. Grafik dengan periode ini akan menggambarkan pergerakan harga yang sifatnya sementara atau temporer. Oleh karena itu, analisa ini sebaiknya tidak dilakukan secara independen, harus dianggap sebagai lanjutan dari analisa grafik jangka panjang.
Gambar 2. Downtrend pada grafik Daily dan uptrend pada grafik Hourly
Pastikan trading Anda berjalan sesuai dengan arah trend. Jika pasar berada dalam uptrend, maka sebaiknya Anda memegang konsep ‘buy’, misalnya membeli pada saat koreksi. Sebaliknya, jika kondisi pasar downtrend, maka konsep yang ideal adalah ‘sell’, misalnya menjual pada saat terjadi rebound dalam downtrend. Biarkan grafik jangka panjang memberikan Anda gambaran trend harga dan gunakan grafik jangka pendek untuk membantu Anda mendapatkan timing yang baik.

Tips Mengenali Trend

a.       Gunakan garis

Gambarlah garis trend (trend line) antar titik puncak. Jika Anda dapat menghubungkan garis tertinggi pertama dengan kedua atau ketiga hingga membentuk pola garis menurun, maka Anda telah menemukan downtrend. Harga biasanya akan kembali ke area tersebut (pullback) sebelum melanjutkan trend. Demikian juga berlaku sebaliknya.
b.       Ikuti rata-rata
Ikuti kemana arah Moving Average. MA menyediakan data rata-rata pergerakan harga dalam periode tertentu. Anda tinggal plot indikator MA dengan periode antara 50 hingga 200, maka arah trend harga sudah terlihat.
Pada tulisan terdahulu telah diulas kiat pengenalan trend dengan baik. Kini waktunya bagi Anda untuk mengukur kualitas trend yang sedang terjadi di pasar. Cara paling baik dan mudah untuk menerapkannya adalah dengan memakai indikator Average Directional Movement Index (ADX).
Indikator ADX tidak sulit untuk ditemukan karena cukup populer dan dimiliki oleh hampir seluruh platform trading pada umumnya. Anda juga dapat dengan mudah menemukan ADX pada indikator trend platform Monex Trader.
ADX adalah salah satu indikator teknikal yang dipopulerkan oleh J. Welles Wilder, bertujuan untuk mengevaluasi kekuatan trend yang terjadi.
Walaupun ADX merupakan bagian dari Oscillator yang bergerak antara angka 0 hingga 100, namun garis ADX yang berhasil mencapai level 60 jarang ditemukan.
Komponen ADX
ADX memiliki tiga garis yang akan terlihat ketika di-plot ke dalam grafik. Garis-garis tersebut merupakan;
  1. Positive Directional Indicator (+DI); garis yang mengukur kekuatan naiknya harga pada periode tertentu.
  2. Negative Directional Indicator (-DI); garis yang mengukur kekuatan turunnya harga pada periode tertentu.
  3. Average Directional Index (ADX); Inti dari ADX, berupa gabungan dari kedua garis (+DI dan -DI) yang di-filterdengan Moving Average untuk menghasilkan ukuran kekuatan trend.
Cara Membaca ADX
Level 20 dan 40 lazim ditetapkan sebagai tolok ukur dalam pembacaan ADX. Walaupun demikian, level tersebut dapat diubah sesuai dengan pilihan masing-masing pengguna.
Secara umum, proses menghasilkan tingkat kekuatan trend melalui indikator ini dapat di sederhanakan sebagai berikut:
  1. Garis ADX yang bergerak dari level 20 ke atas level 40 memberi indikasi lemahnya sideway dan mulai kuatnya trend yang sedang terjadi, baik itu uptrend maupun downtrend.
  2. Sebaliknya, Garis ADX yang bergerak dari level 40 ke bawah level 20 memberi indikasi dimulainya pelemahan trend dan berpeluang memasuki pergerakan sideway.
Garis positif dan negatif DI akan bergerak naik turun dan terkadang saling memotong satu sama lain sesuai dengan penguatan dan pelemahan trend.
Uptrend dikatakan kuat jika ADX bergerak naik ke atas 20, diikuti dengan kenaikan garis positif DI (+DI), dan disebut melemah ketika ADX turun ke bawah level 20 yang diikuti oleh turunnya garis +DI.
Downtrend dikatakan kuat jika ADX bergerak naik ke atas 20, diikuti dengan kenaikan garis negatif DI (-DI), dan disebut melemah ketika ADX turun ke bawah level 20 yang diikuti oleh turunnya garis –DI.
 
Pada grafik Euro daily November 2007, indikator ADX bergerak ke bawah area 40 bersamaan dengan lemahnyauptrend, dan memasuki fase konsolidasi atau sideway hingga Februari 2008. Setelah itu, uptrend mulai terlihat kuat kembali seiring dengan begeraknya ADX ke atas area 40. Kemudian pada April 2008 hingga awal Agustus ADX harga memasuki fase konsolidasi ke-dua yang juga diikuti oleh turunnya garis ADX ke bawah level 40. Reversalterjadi ketika harga bergerak downtrend dan diikuti oleh ADX yang menguat melewati area 40.
Pengukuran Kualitas Trend Euro Terakhir
Setelah memahami penggunaan indikator ADX, Anda bisa melihat kualitas trend yang terjadi pada pergerakan Euro saat ini (gambar 2).
Downtrend telah dimulai sejak November 2009. Pada saat itu, garis ADX mulai bergerak ke atas level 20 yang mengindikasikan dimulainya trend. Kenaikan ADX tersebut juga diikuti oleh naiknya garis merah (-DI) ke atas 20 yang mengkonfirmasikan bahwa trend yang dimulai adalah downtrend.
Downtrend tersebut semakin menguat ketika garis ADX telah mencapai level 40 dan mulai menunjukkan konsolidasi ketika ADX mulai melemah menuju ke bawah level 40. Bersamaan dengan itu, garis negatif DI telah berada di bawah level 20.
Gambar 2. Down trend yang kuat pada Euro periode daily
Pada akhir fase downtrend Mei 2010, ADX telah menunjukkan pelemahan dan indikasi reversal ketika melewati level di bawah 40.
Terakhir, ketika harga berhasil melewati trendline dan mencapai level MA 100 hari yang mengindikasikan uptrenddimulai, ADX telah menyatakan uptrend yang baru saja dimulai cukup kuat.
Demikian ulasan singkat tentang cara mengukur kualitas trend. Semoga bermanfaat bagi aplikasi trading Anda. Nantikan pembahasan analisa teknikal lain pada Futures Monthly edisi berikutnya.  
Tips untuk Trader:
Naik dan turunnya garis ADX dapat dijadikan sebagai tanda untuk mulai menggunakan indikator yang berbeda sebagai penghasil sinyal transaksi.
  1. ADX Naik à Gunakan indikator trend seperti MA, PSAR, Bollinger Bands Line
  2. ADX Turun à Gunakan Oscillator, seperti RSI, Stochastic
Padatulisan yang lalu, Anda telah mengukur seberapa besar kekuatan trend harga. Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menentukan level ideal bagi Anda untuk mengambil atau melikuidasi posisi yang telah ada.
Support dan Resistance
Level pertama yang perlu dikenali adalah support dan resistance. Kedua level dapat membantu Anda dalam mengambil posisi baru, menambah, mengurangi atau menutup posisi. Banyak kalangan setuju bahwa level terbaik untuk mengambil posisi beli adalah dengan memilih level terdekat support. Sedangkan level terbaik untuk menjual adalah yang terdekat dengan resistance.
Support adalah level di bawah harga saat ini, yang memiliki kekuatan beli cukup besar sehingga mampu menahan penurunan harga lebih lanjut.
Resistance adalah level di atas harga saat ini, yang memiliki kekuatan jual cukup besar sehingga mampu menahan kenaikan harga lebih lanjut.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menentukan level support dan resistance, antara lain melalui penggunaan Pivot, titik terendah dan tertinggi harga, trend line atau indikator-indikator teknikal yang tersedia. Dalam pembahasan kali ini, Anda akan melihat sekilas beberapa cara yang lazim digunakan.
1. Titik Harga Tertinggi dan Terendah
Melalui metode ini, Anda dapat menggunakan level support dan resistance untuk menentukan level-level transaksi Anda, seperti yang diilustrasikan pada gambar 1 di bawah ini:
Level support dan resistance yang pertama, asumsikan Anda tidak mengambil posisi baru, karena level tersebut digunakan untuk melikuidasi posisi yang sebelumnya.
  1. Ketika harga berlanjut turun pada support yang kedua 1.3070 dan kemudian harga naik membentuk resistance di level 1.3230. Setelah terbentuknya ke dua level tersebut, Asumsikan  Anda menempatkan posisi jual baru di level support dan stop di level resistance.
  2. Harga berlanjut turun dan membentuk support ke-tiga di level 1.2820, lalu naik membentuk level resistance baru di 1.2930.
  3. Harga berlanjut turun membentuk minor support dan minor resistance.
 2. Trend Line
Anda juga dapat menentukan level support dan resistance melalui penggunaan trend line dengan konsep aplikasi trend line yang sama dengan ulasan pada artikel pertama.
Sebagai contoh penggunaan, Anda dapat membuat trend line seperti gambar 2;
Garis support pertama terbentuk ketika harga berulang kali rebound pada saat menyentuh garis. Lalu berhasil melewatinya pada harga 1.3200 untuk kemudian membentuk resistance di level 1.3230, sejalan dengan garis support awal.
 
3. Indikator
Level support dan resistance dapat juga ditentukan melalui penggunaan indikator teknikal, seperti Bollinger Bands, Moving Average, Parabolic SAR dan indikator lainnya.
Pada penggunaan Bollinger Bands (sebagai contoh pembahasan), level-level resistance disediakan oleh garis atas atau upper band. Sedangkan penyediaan support diperoleh melalui garis bagian terbawah atau lower band (gambar 3).
Level-level dan area harga yang disediakan melalui indikator seperti ini umumnya bersifat fleksibel, terus bergerak sesuai dengan perkembangan harga. Misalnya jika harga terus turun, maka level resistance dan support juga ikut merendah. Sebaliknya jika harga terus menguat, maka level-level tersebut pun ikut naik.

Setelah memahami level support dan resistance, mari beranjak pada pembahasan level kunci selanjutnya. Yakni tentang bagaimana cara mengukur level-level koreksi dan target pergerakan harga secara praktis.
Penting bagi Anda untuk mengetahui peran kedua level ini karena: Pertama, sebagai sarana untuk mendapat gambaran umum tentang pergerakan harga. Ke-dua, untuk memudahkan Anda dalam memulai transaksi/ menempatkan posisi baru, jika Anda telah memperkirakan level koreksi sebelumnya. Kedua level sangat membantu penempatan posisi likuidasi. Ke-tiga, Anda dapat dengan mudah mengukur rasio resiko dan reward dari setiap transaksi yang akan berlangsung.
Koreksi
Harga cenderung bergerak ke arah yang sama selama periode tertentu, namun bukan berarti tanpa fluktuasi. Seringkali, harga turun di saat belum kembali melanjutkan pergerakan utamanya. Pergerakan melawan arah utama tersebut dinamakan ‘koreksi’.
Koreksi pasar tidak dapat bergerak 100 % (atau lebih) dari pergerakan utama yang mendahuluinya. Koreksi dapat berkisar antara 10 hingga 80%, tergantung pada kuat atau lemahnya trend yang terjadi.
Fibonacci Retracement
Alat atau indikator yang umum digunakan untuk mengukur koreksi pasar adalah Fibonacci Retracement. Indikator ini sudah terpasang pada platform Monex Trader Anda.
Dalam trend normal,  harga cenderung terkoreksi sebesar 50% dari harga awal. Meski demikian, Anda juga perlu mewaspadai level-level 33% atau 61.8% pada Fibonacci. Mengingat koreksi juga sering terjadi pada level ini, terutama saat trend sangat kuat atau lemah. Ketika Euro mengalami penurunan tajam, koreksi hanya mencapai persentase 38,2% dari pergerakan utamanya (lihat gambar 1).
Namun, saat trend sudah mulai melemah atau berada dalam fase matang, koreksi lazimnya mencapai 50% atau 61,8% level Fibonacci (lihat gambar 2). Melalui pengukuran level tersebut, Anda dapat menemukan level masuk posisi dengan lebih baik dan terukur. Level entry terbaik juga bisa didapat dengan menggabungkan penggunaan level koreksi Fibonacci dengan level support.
Target Harga
Anda dapat menerpakan analisa teknikal dengan menggunakan rasio-rasio Fibonacci atau pola harga. Perbedaan hanya pada tingkat kemudahannya saja.
Fibonacci Expansion
Fibonacci Expansion telah terpasang pada platform Monex Trader, sehingga Anda tidak perlu menghitungnya sendiri.
Setelah mengalami koreksi, biasanya harga cenderung kembali bergerak antara 100% atau 161.8% dari pergerakan awal sebelum koreksi. Euro bergerak mencapai 100% dari pergerakan sebelumnya pada periode Agustus 2009 – Februari 2010.
Dalam trend yang kuat, harga dapat mencapai angka 261.8% hingga 462.8% dari pergerakan tersebut.
Pada bulan April hingga Mei 2010, Euro bergerak sebesar 261.8% dari pergerakan awal yang terjadi pada bulan Maret 2010 (gambar 4).
Tentu saja, mungkin sekali terlihat level-level dimana harga bergerak kurang atau lebih dari level yang disediakan oleh Fibonacci. Anda juga dapat menggabungkan Fibonacci Expansion dengan level resistance yang sudah dibahas sebelumnya untuk memaksimalkan level likuidasi posisi Anda.



Continue Reading | komentar
JustForex
Flag Counter
 
Support : FBS | Aforex | Octafx | Igofx | Xm | Justforex | Ironfx
Copyright © 2014. . - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger